Burung Rangkong Kalimantan

Burung Rangkong terdapat berbagai macam jenis.
Secara taksonomi, rangkong termasuk kedalam ordo Bucerotiformes yang dapat dibedakan menjadi dua famili, yaitu Bucorvidae dan Bucerotidae. Morfologi Bucorvidae ditandai oleh ukuran tubuh yang sangat besar (berat tubuhnya 3344 -4191 gram dengan panjang sayap 512 -560 mm) dan merupakan rangkong terbesar. Seluruh tubuh ditutupi bulu berwarna hitam, kecuali bulu primer yang berwarna putih, dengan bagian ekor yang relatif pendek dan mempunyai kaki yang panjang. Anggota Bucorvidae diwakili oleh satu genus, yaitu Bucorvus yang terdiri dari dua species, hidup terestrial di savana Afrika. Rangkong ini bersifat carnivorous, lebih banyak berjalan di tanah dibandingkan terbang, bersarang di batuan dan pohon berlubang, tetapi tidak menutup sarangnya .
Sementara anggota famili Bucerotidae memiliki ukuran tubuh sedang sampai besar (berat tubuh 83 -3007 gram dengan panjang tubuh berkisar dari 45 sampai dengan 170 cm), mempunyai kaki yang pendek. Rangkong di Asia bersifat frugivorous (pemakan buah), tetapi dalam keadaan tertentu memakan berbagai jenis binatang misalnya tupai dan serangga. Umumnya anggota Bucerotidae hidup berpasangan dan bahkan berkelompok. Pada saat bersarang lebih menyukai pohon berlubang yang alami. Kedua famili tersebut di atas dibedakan berdasarkan atas 26 karakter anatomi seperti bentuk balung dan paruh, tingkah laku dan perkembangan keduanya serta hubungan kekerabatannya

Ada yang disebut Rangkong Badak.
Rangkong Badak termasuk dalam suku Bucerotidae yang merupakan kelompok burung berukuran besar yang mudah dikenali terutama dari cula. Ukuran sangat besar, yaitu 110 sentimeter dengan dominasi warna hitam dan putih pada bulu-bulunya. Kulit disekitar mata berwarna abu-abu gelap, bagian paruh berwarna kuning berpangkal merah dengan tanduk melengkung ke atas

Bagian irisnya berwarna putih sampai biru pada betina dan berwarna merah pada jantan. Bagian kepala, punggung, sayap dan dadanya berwarna hitam, sedangkan bagian perut dan paha berwarna putih. Ciri lainnya yaitu bagian ekor berwarna putih mencolok dengan garis hitam lebar melintang. Bagian kaki berwarna abu-abu kehijauan. Menurut cerita rangkong badak merupakan burung yang setia terhadap pasangannya. Jika salah satu pasangannya mati, maka burung tersebut akan tetap sendiri hingga akhir hidupnya. Satwa ini menghabiskan waktunya di bagian atas tajuk hutan dengan memakan buah-buahan, serangga, reptil kecil, hewan pengerat, dan burung-burung kecil. Rangkong badak mempunyai perilaku yang unik, yaitu individu betina bersarang dalam lubang pohon yang kemudian ditutup dengan lumpur. Selama burung rangkong badak individu betina tinggal di dalam lubang tersebut, ia diberi makan oleh individu jantan.

Adapula yang disebut dengan Burung Rangkong Gading
Rangkong gading atau Enggang gading (Buceros/rhinoplax vigil) adalah burung berukuran besar dari keluarga Bucerotidae. Burung dini ditemukan di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan. Dalam budaya Kalimantan, burung Rangkong gading (tingan) merupakan simbol "Alam Atas" yaitu alam kedewataan yang bersifat "maskulin". Di Pulau Kalimantan, burung Rangkong gading dipakai sebagai lambang daerah atau simbol organisasi. Selama bertahun-tahun, burung ini terancam oleh deforestasi berkelanjutan dan bertambah luasnya perkebunan kelapa sawit atau tambang batubara.

Dengan semakin meningkatnya kesejahteraan di Asia, ada peningkatan permintaan, dan burung-burung ini diburu dan diperdagangkan dalam skala yang tak lagi seimbang dengan pertumbuhan populasi mereka. 
Hilangnya burung jantan juga memiliki pengaruh terhadap burung betina, terutama karena perilaku mereka yang tak biasa saat berkembang-biak. Burung betina membuat sarang di dalam pohon yang dilubangi dan burung jantan menutup sarang menggunakan lumpur. Burung betina akan tinggal di sana selama 160 hari dan burung jantan akan membawakan makanan dan mengantarkannya lewat celah di tutupan lumpur tersebut. Saat burung jantan diburu untuk diambil culanya, burung jantan dan anak burung terancam mati karena tak ada yang memberi mereka makan. Kehadiran rangkong juga memiliki hubungan postif tak terpisahkan dengan hutan. Ya, keberadaan rangkong di hutan menunjukkan bila rimba tersebut pastinya dipenuhi oleh pepohonan yang sehat. Pasalnya, rangkong membutuhkan pohon yang tegap dan kuat untuk digunakan sebagai sarangnya yang diperkirakan berdiameter 45 cm. Dengan begitu, pohon-pohon yang berpostur besar ini pastinya berada di hutan yang jauh dari kegiatan pembalakan. 
 “Sejak abad ke-17 tepatnya zaman Dinasti Ming, bangsawan Tiongkok sudah menginginkan cula rangkong gading untuk dijadikan hiasan. Cula yang berada di atas paruh ini beratnya sekitar 13 persen dari berat tubuhnya yang struktur materinya hampir sama dengan gading gajah. Bentuknya padat dan solid.” 

Daftar 13 jenis rangkong di Indonesia dan status konservasi internasional Nama Indonesia
 1. Enggang Jambul
 2. Rangkong Gading
 3. Enggang Papan
 4. Enggang Cula
 5. Enggang Klihingan
 6. Kangkareng Hitam
 7. Perut-putih
 8. Julang Jambul-hitam
 9. Kangkareng Sulawesi
10. Julang Sulawesi
11. Julang Sumba
12. Julang Emas
13. Julang Irian

Saat makan buah, umumnya rangkong memperlakukan buah dengan dua cara. Pertama, memasukan dan melumat buah di dalam paruh lalu mengeluarkan bijinya dari dalam paruh setelah bagian yang lainnya ditelan. Cara kedua yaitu dengan memasukan buah (yang umumnya berbiji halus) melalui paruh ke kerongkongan, dan terus ke saluran pencernaan di dalam tubuh, lalu bijinya akan dikeluarkan bersama kotorannya. Jenis makanannya bermacam-macam, seperti buah Connarus sp yang berhabitus liana atau buah-buahan lain dan serangga yang terdapat di habitatnya. Rangkong lebih menyukai buah yang cukup besar dari beberapa pohon besar di dalam hutan. Sebagai burung pemakan buah, pola makan rangkong memperlihatkan aktivitas bimodal, yaitu memulainya pada pagi hari dengan frekuensi tinggi, kemudian menurun pada siang hari, dan akan meningkat kembali pada sore hari. Tinggi-rendahnya frekuensi aktivitas makan diduga dipengaruhi oleh suhu sekitar dan perubahan intensitas cahaya matahari. 

Ada beberapa cara yang dilakukan oleh rangkong dalam mengambil makanannya, ialah mengungkit (levering), menggali (digging), mengejar (chasing), menyambar (swooping), memungut (plucking), dan berburu (hawking). Sebelum makanan ditelan, rangkong akan memperlakukan makanannya dengan cara menghancurkan (crushing), melumatkan (softening), membawa (carrying), dan menelan (swallowing). Teknik-teknik makan diatas dapat berbarengan disesuaikan dengan jenis makanannya. Pada umumnya rangkong lebih memilih makanan yang ada di atas pohon (arboreal) di hutan. Jarang dijumpai burung rangkong memakan buah-buahan di atas tanah.

Komentar